Datsun P 510 S - 'Jack-in-the-Box' Datsun


“Kenapa nggak dijual aja sih? Tiap kali lihat mobil klasik pasti dibeli”. Kalimat pertanyaan dari sang istri tersebut cukup efektif untuk membuat Cimoh, pemilik Datsun P 510 S tahun 1972 ini kebingungan. Di satu sisi ia berperan sebagai kepala rumah tangga yang sayang istri, di sisi lain kami yakin Cimoh punya cerita dan kenangan tersendiri dari tiap mobilnya, terlebih lagi jika sudah menyangkut segmen tertentu seperti mobil klasiknya.

Kejadian tersebut membuat Cimoh semakin yakin untuk merestorasi mobilnya. Mungkin ia berfikir bisa merubah pandangan istrinya sekaligus mentransfer ide-ide modifikasinya pada Datsun tersebut.

Proses modifikasi tak berjalan seperti apa yang ia konsepkan pada awalnya, karena Cimoh mengalami kendala saat mencari beberapa original parts dari Datsun ini. Teman-temannya dari komunitas Datsun Jakarta pun kemudian memberi ide untuk merubah Datsun milik Cimoh ini menjadi agak radikal.

Kami melihat warna baby blue/ lullaby blue memang mempunyai poin tersendiri dalam menambah kesan retro pada Datsun ini.

Performance Wheels dari Australia ini sempat kami pikir Enkei atau Enmaru dari kejauhan, bentuknya sangat identik satu sama lain jika tidak melihat brand. Setidaknya Cimoh punya beberapa set velg koleksinya jika ingin mengganti suasana, sedikit cerita ia juga memiliki velg ex mobil Formula 1 pada zaman V-6 dan V-8 turbo sekitar era 1980.

Popularitas semi bucket seat dari Recaro lx seakan tidak pernah hilang menggantikan jok standard dan memang sering diaplikasikan di varian mobil retro hingga sekarang, Cimoh mendapatkannya dari hasil barter dengan salah satu koleksi velg Bilbo miliknya yang berawal dari lelucon ringan antara ia dan temannya.

Biasanya kemeja batik identik dengan pantofel, ternyata kombinasi batik dengan sneakers juga tidak buruk. Cimoh lebih memilih Sportline steering wheels daripada merk Nardi atau Momo yang lebih ‘umum’ dipasangkan dengan Recaro lx.

Ingat dengan Devil Z pada Wangan Midnight?.

Datsun ini mengingatkan kami pada mainan ‘Jack-in-the-box’. Siapapun mengakui status Datsun sebagai mobil retro, Memang unik dan membuat orang ingin tersenyum melihatnya. Sampai pada sesi pemotretan berlanjut pada sektor mesin dan seketika kami diam sejenak dengan ekspresi penuh arti.

Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa parts pendukung mesin SR20DET red top dari Nissan Silvia S13 ini hasil dari beberapa parts mobil lain. Dengan alasan durabilitas & stabilitas, gardan L.S.D yang diambil dari Subaru WRX Sti kemudian di konversi menjadi penggerak roda belakang. Begitu juga suspensi D2 1 way adjustable yang berasal dari Ford Escort Rs Cosworth.

Kami menyimpulkan satu hal setelah sedikit mencoba di sisi pengemudi Datsun milik Cimoh ini. Perasaan yang Anda rasakan ketika mengemudikan mobil klasik tidak akan sama dengan ketika Anda berada didalam Datsun ini, seolah Datsun yang satu ini memang terlahir untuk dipacu.

Anda harus merasakannya sendiri, atau mungkin mau mencoba opsi lain seperti mobil-mobil yang meremehkan sekaligus pernah menjadi korban performa dari Datsun ini.

Dengan hasil akhir seperti ini Cimoh sangat puas karena selain ia bisa menyalurkan hobinya. Ia juga secara tidak langsung membuktikan kesungguhannya merawat mobil klasik pada sang istri melalui satu bahasa, bahasa yang universal bagi car enthusiast, Bahasa yang tidak memerlukan kata dan kalimat untuk berkomunikasi.



Specs :

Engine :

- SR20DET red top from Nissan Silvia S13

- Cometic head gasket

- Turbosmart blow off valve

- Custom piping + intercooler

- Shaft + L.S.D Subaru WRX STi

- Mitsubishi disc brake front + rear

- Walbro 255 lph fuel pump

- Allumunium radiator

- HKS air filter

Footwork :

- Performance Wheels 15"

- GT Radial Champiro HPX tyres 195/50 ZR15

- D2 1 way adjustable suspension from Ford Escort Rs Cosworth

Interior :

- Sportline steering wheel

- Recaro lx semi bucket seat

- Turbosmart boost gauge

- Pivot turbo timer

Misc. :

- Datsun 240z rearview mirror

- Datsun valve cap

- Silicone hose

- Braided hose

comments powered by Disqus